Sunday, February 23, 2014

apartemen sutan

Apartemen Sutan


Sore, tanpa kabar, tanpa berita. Menghirup nafas dalam-dalam. Duduk bertopang dagu menghadap ratan. Pohon beringin tua mengangguk-angguk. Menunggu kabar dari sang angin. Sutan, pergi menghilang tak kunjung pulang. Katanya merantau ke kota, tapi benar-benar tak jelas ke mana perginya.
Aku tak pernah memanggil Sutan dengan sebutan ’Mamas’ atau ’Kang Mas’. Biarpun selisih usia kami sepuluh tahun. Selisih usia tak jadi pembeda. Kakak atau adik sama saja. Panggilan hanya menyatakan rasa hormat; sungguh tanpa itu pun aku menghormati Sutan.
Ah, semua rindu pada Sutan. Bapak dan Mamak selalu berdoa di akhir sholat mereka, doa untuk kembalinya Sutan. Aku hanya rindu pada siulannya; saat menggodaku kala menangis. Sutan si pengambil hati semua orang. Baik hati, ramah, tapi keras kepala.
”Kota itu seperti apa?” Di halaman belakang kami berbincang; jauh sebelum dia menghilang. Aku duduk bergelung di lincak, sedang Sutan tak berkedip menatap langit berbintang. Di matanya ada sejuta harapan.
”Sangat terang. Berkelap-kelip seperti bintang”
Aku membayangkan sesuatu yang luar biasa. Rumah-rumah bercahaya. Pohon bercahaya. Kota bercahaya.
”Lalu seperti apa lagi?” Aku semakin duduk merapat. Di sini tak ada penerangan lain selain cahaya bintang. Mamak tidak membolehkan kami membawa lampu teploknya. Beruntung langit sedang cerah; langit yang baik.
”Gedung-gedung menjulang. Banyak mobil lalu lalang. Lalu apartemen...” Kulihat Sutan menghela nafas dalam. Aku mengangguk, walau tak tahu apa yang ia maksud. ”Kau tahu apa itu apartemen?” Ia menggodaku dengan tatapannya. Aku menggeleng. Memang aku tak tahu apa itu apartemen. ”Apartemen itu sama seperti rumah. Mewah, isinya lengkap. Suatu hari aku ingin tinggal di sana, bersama Mamak, juga Bapak.”
”Aku tidak diajak?” Wajahku langsung berubah cemberut karena kesal. Sutan jahat.
”Kau nanti punya aparteman sendiri. Aku yang beli.”  Sutan mengelus rambut jagungku. Kepalaku dipenuhi bayangan sebuah apartemen. Mungkin aku tidak lagi tidur dengan Bapak dan Mamak; di atas dipan kayu beralas tikar. Semua itu akan berganti dengan kasur empuk dan tebal.
”Kapan Sutan jadi kaya?” Aku meraih tangan besarnya. Seperti menggenggam tangan Bapak. Nyaman dan hangat.
”Tak lama” Ia membiarkanku memainkan jemarinya. Mamas; saudara; sekaligus teman. ”Sepuluh tahun tidak lama,” gumamnya lagi.
Aku tak paham. Sepuluh tahun itu berapa jam? Tak akan cukup dihitung dengan semua jariku, walau ditambah dengan punya Sutan.
”Sudah, sana tidur. Nanti Mamak marah.” Sutan menarik tangannya, membiarkanku pergi ke dalam dengan wajah kesal.
Malam semakin larut. Semua pergi tidur. Tak lama lagi bintang pun ikut terlelap. Doaku; semoga bermimpi indah, tentang sebuah apartemen mewah, di tengah kota penuh cahaya.
Sutan, pergi menghilang tak kunjung pulang. Katanya merantau ke kota, tapi benar-benar tak jelas kemana perginya.
”Sutan mau ke mana?” Aku berdiri di depan pintu. Menatap sendu saat ia berkemas. Baju tak lebih dari tujuh, semua dikepak dalam kardus. Celengan bambu ikut ia masukkan ke dalam. Sutan mengambil foto usang; foto yang ia gunting dari koran. Iklan dari program Keluarga Berencana, entah dengan model siapa. Di bawah gambarnya, ditulisnya dengan tulisan kecil; kecil tapi rapi. Nama Sutan, Bapak, Mamak, dan aku.
”Ke kota.” Ia tersenyum lebar, matanya berkilauan. Apa dia sudah dapat melihat gemerlapnya kota?
”Kapan pulang?” Aku akan kehilangan Sutan; Mamas; Saudara; sekaligus teman, tetapi mataku tak juga berkaca.
”Sepuluh tahun tidak lama.” Lagi-lagi jawaban sama. Sepuluh tahun itu berapa jam? Semua jariku, ditambah punya Sutan, Bapak, juga Mamak, tak akan cukup untuk menghitungnya.
Kini kardus sudah dikemas rapi. Gagahnya Sutan saat melangkah ke luar. Mencium takjim tangan Bapak dan Mamak. Lalu merengkuhku. Lama tak dilepasnya. Mamas; saudara; juga teman, akan pergi dari depan mata. Namun mengapa mataku tak juga berkaca?
”Tunggu sepuluh tahun lagi. Aku mau beli apartemen.” Sutan melambai dengan kardus di tangan kirinya. Apa uang dalam celengan cukup untuk membeli apartemen?
Sutan pergi merantau ke kota; ikut dengan Pak Tua. Kereta gerobak yang ditarik kuda, lambat laun mulai menghilang. Suaranya, sosok gagahnya, tangan besarnya, juga siulannya, semua ikut menghilang. Aku kehilangan si baik hati, ramah, tapi keras kepala.
Pohon beringin tua mengangguk-angguk, menanti kabar dari sang angin. Sutan pergi tak kunjung kembali. Tanpa kabar, tanpa berita. Sepuluh tahun hampir berlalu. Aku ingin Sutan kembali, walau untuk sekedar berbincang di halaman belakang. Tak perlu lagi mencari apartemen. Tak perlu lagi meninggalkan kami. Seandainya ia lebih cepat kembali. Seandainya ia tak perlu pergi. Kota bercahaya sudah ada di sini, meski tidak ada apartemen mewah yang menanti. Apartemen tidak berarti kalau tak ada penghuni yang disayangi.
Namun Sutan tak pernah kembali. Tak akan bisa kembali. Tak ada yang tahu kereta meluluhlantakkan raganya; membiarkan jiwanya terbang bersama harapan. Sutan pergi sepuluh tahun yang lalu, tapi tak kembali untuk menepati janji. Dimanapun dia, Tuhan dengar doaku; semoga di apartemennya kini, dia menggapai semua harapan.

No comments:

Post a Comment