Tuesday, September 24, 2013

novel the summer



The Summer


Cahaya matahari menusuk-nusuk kulitku, membakarnya, membuatnya menjadi kecokelatan. Aroma garam yang dibawa angin memenuhi rongga hidungku, masuk ke dalam paru-paru. Tarian ombak di kaki, hembusan semilir angin, gemersik suara pasir, semua mengingatkanku padanya. Tak sadar aku meraba liontin di leherku. Kalung dengan liontin matahari yang biasanya selalu kusimpan di dalam kotak perhiasan. Pemberian dari Takashi...
***
Delapan tahun yang lalu....
            ”Yama-nii..!” Aku berlari telanjang kaki menyusuri hamparan pasir pantai. Kimonoku bergoyang-goyang lucu. Di tanganku, aku menggenggam sebuah cangkang kerang yang indah. Aku ingin memamerkan temuanku pada Kak Yama.
            ”Kak Yama tidak ada,” ujar suara ketus Takashi. Takashi atau aku biasa memanggilnya Taka adalah adik dari Kak Yama. Meskipun bersaudara, sifat mereka sangatlah berbeda. Kak Yama sangat baik dan lembut, sedangkan Taka galak dan ketus.
            ”Kemana?” tanyaku berlari menghampirinya.
            ”Dia pulang mengambil ember kecil,” jawabnya datar. Aku hanya mendesah kecewa. ”Kau mau apa mencari dia?”
            ”Aku hanya ingin memberikan ini padanya,” jawabku sambil mengangkat tangan kananku yang masih menggenggam cangkang kerang itu. ”Kau juga boleh lihat.” Aku membuka genggamanku dan menyodorkan cangkang kerang itu padanya.
            Taka diam saja. Huh. Aku menarik kembali tanganku, lalu berbalik.
            ”Ayumi...” Taka meraih pergelangan tanganku. Aku menoleh. ”Kau suka kerang kan?” Aku mengangguk, masih menatapnya heran.
            Taka merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin matahari kecil yang diapit oleh cangkang kerang indah.
            ”Kau diam saja di situ.” Dia membuka pengait dari kalung itu dan memakaikannya di leherku. ”Bagus,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah kulihat dari wajahnya.
            ”Ini untukku, Taka-chan?” tanyaku tak percaya.
            Dia mengangguk.
            ”Ayumiii...!” Dari kejauhan aku mendengar teriakan Kak Yama memanggil namaku. Aku menoleh pada Taka.
             ”Terima kasih,” ujarku senang. Dia hanya mengangkat bahunya, wajahnya kembali memperlihatkan sikap dingin seperti biasa.
            Aku berlari menghampiri Kak Yama dengan wajah ceria, meninggalkan Taka dan wajah cemberutnya.
***
            ”Ayumi, cepat bereskan barang-barangmu. Besok kau harus pergi ke sekolah barumu dan aku tidak mau nanti malam kau menumpang tidur di kamarku.” Kak Akio berdiri di depan pintu sambil menatapku yang sedang duduk kelelahan bersandarkan tumpukan kardus.
            Aku diam saja. Huh. Bukannya membantu malah menyuruhku cepat membereskan barang-barang. Padahal aku baru saja beristirahat setelah memindahkan tumpukan pakaian ke dalam lemari dinding. Tinggal kardus-kardus berisi tumpukan buku dan beberapa ornamen yang tadinya kusimpan dalam lemari lamaku.
            Hari ini kami pindah dari Tokyo ke Hokaido. Setelah masa kontrak kerja ayah berakhir, kami kembali ke kampung halaman.  Aku merindukan Hokaido-ku. Sudah delapan tahun aku tidak ke sini. Aku merindukan pantainya yang indah. Aku merindukan keluarga Inamoto. Kak Yama dan....Taka. Ya, apa kabarnya si bocah berwajah masam itu sekarang? Dulu setiap aku bermain dengan Kak Yama, Taka tidak pernah mau ikut bermain bersama kami, dia hanya duduk menyendiri dan mengamati kami dari kejauhan. Aku tadinya menyangka dia membenciku, sampai dia memberiku liontin itu—astaga! Dimana aku menaruh kalungku? Aku membongkar kardus terdekat. Berharap aku tidak meninggalkan kotak perhiasanku di tempat yang salah.....

(to be continue part 2)

mangaaa2

it's kisuke urahara =)

mangaaa

ohaio minna-san :)
this is not my first hand art, but it's gonna be my first post