The Summer
Cahaya matahari menusuk-nusuk
kulitku, membakarnya, membuatnya menjadi kecokelatan. Aroma garam yang dibawa angin memenuhi rongga
hidungku, masuk ke dalam paru-paru. Tarian ombak di kaki, hembusan semilir
angin, gemersik suara pasir, semua mengingatkanku padanya. Tak sadar aku meraba
liontin di leherku. Kalung dengan liontin matahari yang biasanya selalu kusimpan
di dalam kotak perhiasan. Pemberian dari Takashi...
***
Delapan tahun yang lalu....
”Yama-nii..!” Aku berlari
telanjang kaki menyusuri hamparan pasir pantai. Kimonoku bergoyang-goyang lucu.
Di tanganku, aku menggenggam sebuah cangkang kerang yang indah. Aku ingin
memamerkan temuanku pada Kak Yama.
”Kak Yama tidak ada,” ujar
suara ketus Takashi. Takashi atau aku biasa memanggilnya Taka adalah adik dari
Kak Yama. Meskipun bersaudara, sifat mereka sangatlah berbeda. Kak Yama sangat
baik dan lembut, sedangkan Taka galak dan ketus.
”Kemana?” tanyaku berlari
menghampirinya.
”Dia pulang mengambil
ember kecil,” jawabnya datar. Aku hanya mendesah kecewa. ”Kau mau apa mencari
dia?”
”Aku hanya ingin
memberikan ini padanya,” jawabku sambil mengangkat tangan kananku yang masih
menggenggam cangkang kerang itu. ”Kau juga boleh lihat.” Aku membuka
genggamanku dan menyodorkan cangkang kerang itu padanya.
Taka diam saja. Huh. Aku
menarik kembali tanganku, lalu berbalik.
”Ayumi...” Taka meraih
pergelangan tanganku. Aku menoleh. ”Kau suka kerang kan?” Aku mengangguk, masih
menatapnya heran.
Taka merogoh saku celananya,
mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin matahari kecil yang diapit oleh
cangkang kerang indah.
”Kau diam saja di situ.”
Dia membuka pengait dari kalung itu dan memakaikannya di leherku. ”Bagus,”
ujarnya sambil tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah kulihat dari
wajahnya.
”Ini untukku, Taka-chan?”
tanyaku tak percaya.
Dia mengangguk.
”Ayumiii...!” Dari
kejauhan aku mendengar teriakan Kak Yama memanggil namaku. Aku menoleh pada
Taka.
”Terima kasih,” ujarku senang. Dia hanya
mengangkat bahunya, wajahnya kembali memperlihatkan sikap dingin seperti biasa.
Aku berlari menghampiri
Kak Yama dengan wajah ceria, meninggalkan Taka dan wajah cemberutnya.
***
”Ayumi, cepat bereskan
barang-barangmu. Besok kau harus pergi ke sekolah barumu dan aku tidak mau
nanti malam kau menumpang tidur di kamarku.” Kak Akio berdiri di depan pintu
sambil menatapku yang sedang duduk kelelahan bersandarkan tumpukan kardus.
Aku diam saja. Huh.
Bukannya membantu malah menyuruhku cepat membereskan barang-barang. Padahal aku
baru saja beristirahat setelah memindahkan tumpukan pakaian ke dalam lemari
dinding. Tinggal kardus-kardus berisi tumpukan buku dan beberapa ornamen yang
tadinya kusimpan dalam lemari lamaku.
Hari ini kami pindah dari
Tokyo ke Hokaido. Setelah masa kontrak kerja ayah berakhir, kami kembali ke
kampung halaman. Aku merindukan Hokaido-ku.
Sudah delapan tahun aku tidak ke sini. Aku merindukan pantainya yang indah. Aku
merindukan keluarga Inamoto. Kak Yama dan....Taka. Ya, apa kabarnya si bocah
berwajah masam itu sekarang? Dulu setiap aku bermain dengan Kak Yama, Taka
tidak pernah mau ikut bermain bersama kami, dia hanya duduk menyendiri dan
mengamati kami dari kejauhan. Aku tadinya menyangka dia membenciku, sampai dia
memberiku liontin itu—astaga! Dimana aku menaruh kalungku? Aku membongkar kardus
terdekat. Berharap aku tidak meninggalkan kotak perhiasanku di tempat yang
salah.....
(to be continue part 2)
No comments:
Post a Comment